Melania Safirista Sofiarti, M.Pd.

Dapatkah Anda memperkenalkan diri dan membagikan bidang studi Anda di universitas?

Halo semuanya, nama saya Melania Safirista Sofiarti. Saya adalah katekis pastoral disabilitas di Keuskupan Surabaya, dan saya juga membantu mengajar sebagai dosen pada mata kuliah umum Etika Sosial dan mata kuliah Agama. Saya juga membantu di Unit Layanan Disabilitas UKWMS.

Dapatkah Anda menjelaskan keterbatasan Anda?

Saya memiliki gangguan belajar spesifik, yaitu Disleksia, Disgrafia, dan kondisi komorbid. Ini adalah disabilitas yang tidak selalu terlihat secara kasat mata. Ketika saya mengerjakan makalah, sering terdapat banyak salah ketik karena secara pribadi hingga saat ini saya masih mengalami kesulitan menggunakan kata-kata tertentu, serta menentukan kapan kata harus ditulis terpisah atau digabung. Contoh lainnya adalah kalimat yang mengandung kombinasi huruf NG. Saya biasanya mengatasinya dengan membaca ulang atau membuat catatan.

Apa yang menginspirasi Anda untuk menekuni jalur karier akademik?

Saya berasal dari keluarga akademisi. Ayah saya seorang guru, kakak tertua saya juga seorang dosen, dan saya adalah anak kelima dari lima bersaudara. Saudara-saudara saya yang lain juga berkecimpung di bidang pendidikan, mereka menyelesaikan studi dengan baik dan memiliki karya tulis. Hal itulah yang mendukung saya hingga bisa mencapai titik ini.

Dapatkah Anda menggambarkan pengalaman Anda bekerja di universitas sebagai penyandang disabilitas?

Hal yang paling saya khawatirkan bukanlah bagaimana saya mengajar, tetapi bagaimana saya melakukan presensi dengan benar — itu yang menjadi perhatian terbesar saya dan bagi saya cukup sulit. Masalah kedua adalah pernah terjadi kesalahan saat saya memasukkan nilai, misalnya nilai yang seharusnya berada di nomor 20 justru dimasukkan ke nomor 21, tertukar dengan yang di atasnya. Namun syukurlah, mahasiswa saya bersedia melakukan konfirmasi dan berkomunikasi dengan saya mengenai hal tersebut.

Dapatkah Anda berbagi momen positif ketika Anda benar-benar merasa didukung atau diikutsertakan?

Di lingkungan gereja, saya sering dilibatkan oleh para atasan dan senior. Meskipun tidak terlalu sering, hal-hal tersebut yang menurut saya menguatkan, membuat saya percaya diri, dan membantu saya yakin bahwa saya mampu. Selain itu, saya diberi kesempatan untuk mengajar di Widya Mandala Surabaya, saya dipercaya, dan rekan-rekan dosen juga mendukung saya sepenuhnya.

Dapatkah Anda membagikan pencapaian terbesar Anda, dan mengapa?

Ada dua hal bagi saya. Pertama, ketika bekerja dalam pelayanan pastoral disabilitas, saya belajar tentang dunia disabilitas dan itu membuat saya bertumbuh. Bagi saya, pengetahuan tersebut membuat saya benar-benar memahami dunia disabilitas. Kedua, dalam bidang akademik, saya bersyukur dapat menyelesaikan gelar magister dengan nilai yang baik. Saya juga mendapatkan teman-teman baru, dan dalam prosesnya saya bertemu orang-orang luar biasa yang dengan rendah hati menerima saya serta saling berbagi ilmu.

Kekuatan atau strategi pribadi apa yang membantu Anda menghadapi tantangan dalam kehidupan kampus?

Saya selalu bertanya tentang hal-hal yang tidak saya pahami saat perkuliahan, saya langsung menemui dosen. Untuk tantangan yang berkaitan dengan disabilitas saya, karena teknologi sekarang sudah canggih, ketika ada tugas dalam bentuk makalah saya mengunggahnya ke Google Drive yang memiliki fitur koreksi otomatis, dan dari situ saya bisa meninjau serta meneliti kembali dengan lebih teliti.

Siapa atau apa yang memainkan peran terbesar dalam mendukung perjalanan Anda?

Pertama-tama, saya bersandar pada Tuhan, yang selalu melindungi saya dan kepada-Nya saya kembali ketika terjadi sesuatu yang membuat saya sedih atau gelisah. Berikutnya adalah orang tua saya, yang selalu hadir dan mendukung kapan pun. Dan tentu saja suami saya yang suportif sejak saya datang ke Surabaya hingga kami menikah, ia selalu mendukung dan membantu hal-hal yang tidak saya pahami.

Perubahan apa yang akan membuat universitas lebih aksesibel dan inklusif bagi penyandang disabilitas?

Pertama, menumbuhkan kesadaran di kalangan para pendidik, serta kemauan untuk belajar tentang dunia disabilitas dan bagaimana inklusivitas dapat terwujud di universitas, sehingga semua dosen dapat menjadi penyebar informasi di dunia pendidikan. Kedua, saya berharap ada semacam sosialisasi tentang disabilitas agar mahasiswa juga terbiasa dan memahami. Dan yang terakhir, ketika semuanya sudah siap, perlu juga adanya asesmen saat menerima mahasiswa baru.

Nasihat apa yang akan Anda berikan kepada staf penyandang disabilitas lain yang ingin menekuni karier akademik?

Bagi teman-teman yang mungkin sedang mencari pekerjaan, tetap semangat. Dan bagi yang sudah bekerja, berikan yang terbaik. Ketika ada hambatan, jangan malu dan jangan takut. Carilah teman-teman yang baik untuk perkembangan diri Anda. Dimulai dari diri sendiri, teman-teman penyandang disabilitas jangan hanya menunggu — kita juga harus bergerak, agar kita bisa mengangkat diri kita dan menunjukkan eksistensi kita, sehingga semakin banyak orang yang sadar akan disabilitas.