Gracius Randy Wahyu Jatiprasetyo, S.Psi

Dapatkah Anda memperkenalkan diri dan membagikan bidang studi Anda di universitas?

Halo, nama saya Gracius Rendi Wahyu Jatiprasetyo, bisa dipanggil Graci. Saya berkuliah di Fakultas Psikologi, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya.

Dapatkah Anda menjelaskan keterbatasan Anda?

Saya memiliki gangguan mental, yaitu depresi. Sebelumnya saya didiagnosis dengan Major Depressive Disorder, tetapi perlahan-lahan kondisi saya mulai membaik. Hal itu mungkin juga berkaitan dengan pengalaman saya yang pernah melakukan percobaan bunuh diri.

Apa yang menginspirasi Anda untuk menekuni bidang studi ini?

Inspirasi utama saya memilih psikologi berasal dari sebuah manhwa atau webtoon berjudul Doctor Frost, yang menginspirasi saya untuk menjadi seorang psikolog atau setidaknya menjadi pribadi yang berguna dalam membantu orang-orang di sekitar saya yang mengalami gangguan mental.

Dapatkah Anda menggambarkan pengalaman Anda belajar di universitas sebagai penyandang disabilitas?

Mungkin sekitar semester tiga atau empat depresi itu mulai muncul, sehingga saya mengalaminya kurang lebih selama satu setengah tahun di bangku kuliah. Sejujurnya, semua itu sangat mengganggu — pikiran saya tidak fokus. Apa pun yang saya lakukan, hal-hal yang dulu menyenangkan seperti membaca atau menonton film, menjadi terasa repetitif dan tanpa makna. Namun setelah percobaan bunuh diri tersebut, saya mencoba untuk bangkit, meskipun terasa menyakitkan, dan memproses semuanya secara perlahan. Saya menyadari bahwa banyak teman yang membantu saya, termasuk staf dan dosen.

Dapatkah Anda berbagi momen positif ketika Anda benar-benar merasa didukung atau diikutsertakan?

Ada beberapa teman dekat saya — Nathan dan Calvin. Terima kasih, karena kalian selalu berada di sisi saya sebagai rekan seperjuangan, selalu menjaga dan mendukung saya. Orang tua saya juga selalu mendukung saya. Selain itu, teman-teman lain, khususnya di organisasi mahasiswa yang sempat saya tinggalkan, tetap mempercayai saya untuk mengerjakan tugas editing dan tugas lainnya, bahkan untuk mengikuti lomba paper di Filipina. Padahal saat itu saya sedang merasa depresi dan mungkin mengalami penurunan kemampuan kognitif akibat kondisi tersebut.

Dapatkah Anda membagikan pencapaian terbesar Anda, dan mengapa?

Tetap hidup. Karena bagi saya, tetap hidup dan terus berjuang adalah hal yang sangat berarti. Mungkin saya memaknai hidup melalui hal-hal sederhana seperti membaca atau mendengarkan musik, dan itu sudah cukup bagi saya untuk terus bertahan.

Kekuatan atau strategi pribadi apa yang membantu Anda menghadapi tantangan dalam kehidupan kampus?

Dalam menghadapinya, saya lebih memilih untuk percaya bahwa saya tidak sendirian — ada teman-teman di belakang saya yang siap mendukung. Selain itu, saya juga memiliki satu role model, yaitu Albert Camus, yang melalui pemikiran absurdisme menunjukkan bahwa apa pun yang saya lakukan untuk tetap hidup memiliki makna bagi diri saya sendiri.

Siapa atau apa yang memainkan peran terbesar dalam mendukung perjalanan Anda?

Tentu saja orang tua saya, kemudian Nathan dan Calvin yang terus memberi saya semangat. Mereka berusaha menguatkan saya dengan mengatakan bahwa semuanya tidak apa-apa. Misalnya, ketika saya merasa melakukan kesalahan, mereka mengatakan bahwa saya tidak perlu meminta maaf atas kesalahan, karena setiap orang pasti pernah berbuat salah.

Perubahan apa yang akan membuat universitas lebih aksesibel dan inklusif bagi penyandang disabilitas?

Universitas dapat membantu dengan menyediakan layanan seperti pusat layanan psikologi atau layanan konseling yang memang ditujukan untuk konsultasi, baik terkait masalah kesehatan mental maupun hal lainnya. Kesehatan mental sering kali tidak terlihat, karena yang tampak hanyalah kondisi luar seseorang.

Nasihat apa yang akan Anda berikan kepada mahasiswa penyandang disabilitas yang memasuki pendidikan tinggi?

Mungkin untuk teman-teman mahasiswa atau dosen, jangan terlalu cepat menghakimi. Ajaklah seseorang untuk berbicara, karena mereka yang sedang melalui masa sulit membutuhkan lingkungan yang suportif. Untuk teman-teman yang masih berkuliah dan melihat ada teman yang membutuhkan bantuan, tolonglah mereka. Setidaknya dengarkan cerita mereka. Saya sedang berusaha, dan mungkin saya bersama teman-teman lain bisa menciptakan lingkungan yang nyaman bagi teman-teman berkebutuhan khusus yang akan datang setelah kami.