Dapatkah Anda memperkenalkan diri dan membagikan peran Anda di universitas?
Saya adalah Dr. Hanung Triyoko. Saya meraih gelar Sarjana Sastra Inggris dari Universitas Gadjah Mada, dan melanjutkan studi Magister Linguistik juga di Universitas Gadjah Mada. Saya sangat beruntung karena menjadi salah satu penerima beasiswa Australian Overseas. Saya menempuh program Magister Educational Leadership and Management di La Trobe University, Melbourne, dan lulus pada tahun 2009.
Dapatkah Anda menjelaskan keterbatasan Anda?
Keterbatasan saya berkaitan dengan mobilitas. Saya tidak dapat bekerja secepat orang pada umumnya. Selain itu, baru-baru ini saya mengalami serangan stroke yang membuat saya sangat kesulitan mengendalikan bagian tubuh sebelah kanan.
Apa yang menginspirasi Anda untuk menekuni jalur karier akademik?
Saya ingin menginspirasi sebanyak mungkin mahasiswa tentang berbagai budaya di luar negeri serta pengalaman berbeda dalam studi. Saya bangga membagikan bahwa lebih dari 30 mahasiswa saya telah melanjutkan studi ke luar negeri, seperti ke Amerika, Australia, India, bahkan ke Inggris dan Selandia Baru.
Dapatkah Anda menggambarkan pengalaman Anda bekerja di universitas sebagai penyandang disabilitas?
Mengenai pengalaman saya bekerja di universitas, sejujurnya saya tidak memiliki masalah yang serius. Karena ketika orang bekerja di universitas, yang dinilai adalah kemampuan akademiknya. Namun dalam hal berpindah dari satu tempat ke tempat lain, saya memang memiliki kendala, terutama ketika harus naik ke lantai atas.
Dapatkah Anda berbagi momen positif ketika Anda benar-benar merasa didukung atau diikutsertakan?
Saya adalah penyandang disabilitas mobilitas. Saya merasa sangat positif ketika diangkat menjadi dosen di universitas — itu adalah awal yang sangat baik. Karena saya tahu bahwa di universitas, yang lebih dihargai adalah kemampuan berpikir, bukan mobilitas. Jadi saya memiliki kapasitas untuk berpikir dan mengajar, sehingga saya tidak merasa akan memiliki masalah serius dalam mengajar di universitas.
Dapatkah Anda membagikan pencapaian terbesar Anda, dan mengapa?
Pencapaian terbesar saya sebagai seorang dosen adalah ketika mahasiswa saya memberi kabar bahwa mereka mendapatkan beasiswa untuk studi ke luar negeri. Luar biasa. Saya selalu merasa sangat bahagia. Saya ingin menginspirasi sebanyak mungkin mahasiswa dengan menceritakan berbagai budaya yang berbeda.
Kekuatan atau strategi pribadi apa yang membantu Anda menghadapi tantangan dalam kehidupan kampus?
Kekuatan pribadi saya dalam menghadapi tantangan kehidupan kampus adalah sikap terbuka (open-minded). Selain itu, saya menyukai inovasi. Itulah sebabnya dengan adanya kecerdasan buatan dan kondisi disabilitas saya saat ini, saya tidak memiliki masalah yang terlalu serius, karena saya memanfaatkan kecerdasan buatan untuk mengajar dan banyak menggunakan internet untuk pembelajaran. Misalnya, saya menggunakan Google Classroom dan berbagai alat pembelajaran berbasis internet lainnya. Intinya adalah: selalu siap untuk terus belajar setiap waktu.
Siapa atau apa yang memainkan peran terbesar dalam mendukung perjalanan Anda?
Hal lain yang selalu mendukung saya dalam karier adalah Pemerintah Australia yang memberikan saya beasiswa selama dua tahun untuk menempuh Magister Educational Leadership and Management di La Trobe pada tahun 2007 hingga 2009, dan saya sangat bersyukur atas hal itu. Hingga saat ini, saya masih menjalin hubungan yang sangat baik dengan pemerintah Australia melalui berbagai program alumni mereka, dan saya selalu mendapatkan informasi terbaru melalui program tersebut.
Perubahan apa yang akan membuat universitas lebih aksesibel dan inklusif bagi penyandang disabilitas?
Jika saya dapat memberikan saran bagi universitas agar lebih aksesibel, pertama-tama lihatlah kemampuan, bukan disabilitasnya. Karena jika diberi kesempatan, orang dapat memberikan yang terbaik sesuai dengan kemampuannya. Jika universitas melihat mahasiswa dengan disabilitas, bersiaplah untuk membantu mereka dengan cara apa pun. Misalnya, membuka Kantor Layanan Disabilitas seperti yang diselenggarakan oleh UGM. Saya pikir sudah saatnya semua universitas memiliki Unit Layanan Disabilitas sendiri. Selain itu, perlu lebih siap dalam berinovasi dan memanfaatkan teknologi, karena teknologi ada untuk membantu kita bekerja lebih baik dan lebih efisien.
Nasihat apa yang akan Anda berikan kepada staf penyandang disabilitas lain yang ingin menekuni karier akademik?
Kita diharapkan dapat mengoptimalkan kemampuan berpikir dan kapasitas kognitif kita — itu adalah pilihan yang baik untuk berkarier di bidang akademik. Namun untuk bertahan di dunia akademik saat ini, kita harus siap untuk terus belajar. Bekali diri dengan teknologi, karena dengan teknologi — dalam kasus saya — saya bisa menjadi siapa pun yang saya inginkan. Saya bisa seperti Spider-Man, berpindah dari satu gedung ke gedung lain, berinovasi menghadapi tantangan dan kebutuhan studi di situasi saat ini.