Bima Kurniawan, S.Pd., M.Hum

Dapatkah Anda memperkenalkan diri dan membagikan peran Anda di universitas?

Nama saya Bima Kurniawan, seorang dosen di Universitas Trunojoyo Madura. Saya memiliki disabilitas penglihatan. Selain menjadi akademisi, saya aktif di beberapa komunitas, khususnya komunitas disabilitas, dan saat ini saya sedang merintis komunitas aktivis pendidikan inklusif yang berorientasi pada promosi pendidikan inklusif.

Dapatkah Anda menjelaskan keterbatasan Anda?

Ada dua konsep model dalam memandang disabilitas dari sudut pandang individu. Pertama adalah model sosial, dan kedua adalah model medis. Jika kita melihat dari model medis, sebagai penyandang disabilitas penglihatan, jelas bahwa hambatan saya berada pada konteks penglihatan. Pertama, saya memiliki hambatan dalam mobilitas, berpindah dari satu titik ke titik lainnya. Kedua, dalam navigasi atau menggunakan teknologi seperti laptop atau ponsel pintar, saya juga menghadapi hambatan.

Apa yang menginspirasi Anda untuk menekuni karier akademik?

Bidang akademik adalah tugas yang sangat mulia. Kita memiliki tiga bidang utama: pendidikan, penelitian, dan pengabdian. Jika kita melihat tujuan bangsa ini, pertama, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan kedua, menyejahterakan kehidupan bangsa, hal tersebut dapat dicapai melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian. Inilah yang kita sebut sebagai Tri Dharma Perguruan Tinggi. Dari sana, saya mengembangkan minat untuk menjadi seorang akademisi.

Dapatkah Anda menggambarkan pengalaman Anda bekerja di universitas sebagai penyandang disabilitas?

Pengalaman pribadi saya, seperti yang saya sebutkan sebelumnya, adalah bahwa berada di dunia akademik memang memiliki tantangan tersendiri, terutama bagi penyandang disabilitas, khususnya ketika kita menghadapi lingkungan yang kurang akomodatif. Ketika lingkungan kurang akomodatif, di situlah hambatan mulai muncul dan saya mulai merasakan beratnya menjadi penyandang disabilitas. Namun, ketika lingkungannya akomodatif, hal itu menjadi solusi bagi saya secara pribadi untuk bekerja dan menjalankan tugas akademik seperti pendidikan, penelitian, dan pengabdian.

Dapatkah Anda berbagi momen positif ketika Anda benar-benar merasa didukung atau diikutsertakan?

Ini adalah sesuatu yang sangat positif — karena bagi penyandang disabilitas terdapat undang-undang khusus, yaitu Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016, di mana Pasal 11 menyatakan bahwa penyandang disabilitas harus diberikan akomodasi, harus ditempatkan secara adil, proporsional, dan bermartabat.

Dapatkah Anda membagikan pencapaian terbesar Anda, dan mengapa?

Prestasi akademik saya yang menonjol adalah lulus dengan predikat cum laude dan dinobatkan sebagai lulusan terbaik Program Studi Linguistik Terapan di Universitas Negeri Jakarta. Ini adalah salah satu bentuk bukti bahwa penyandang disabilitas dapat berprestasi. Kedua, sebagai seorang akademisi, pencapaian saya adalah lulus seleksi sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil dan kini menjadi Pegawai Negeri Sipil. Saya pikir itu adalah pencapaian yang luar biasa.

Kekuatan atau strategi pribadi apa yang membantu Anda menghadapi tantangan dalam kehidupan kampus?

Yang pertama adalah motivasi, dan yang kedua adalah rasa percaya diri. Motivasi sangat penting, terutama bagi individu dengan disabilitas, karena dengan motivasi kita dapat meraih apa yang kita impikan. Rasa percaya diri juga sangat penting. Ketika seorang penyandang disabilitas percaya diri, maka kekuatan dan upaya untuk berkarya akan mulai muncul.

Siapa atau apa yang memainkan peran terbesar dalam mendukung perjalanan Anda?

Pertama, orang tua saya, kemudian istri, anak, adik, kerabat, dan rekan sejawat. Mereka semua sangat mendukung dan akomodatif. Mereka memberi saya semangat, terutama ketika mereka memberikan akomodasi di area-area di mana saya memang merasa kesulitan berinteraksi dengan lingkungan atau dengan orang lain.

Perubahan apa yang akan membuat universitas lebih aksesibel dan inklusif bagi penyandang disabilitas?

Ada beberapa hal yang perlu diperbaiki. Pertama, kita harus memperkuat kesadaran dan persiapan yang dimulai dari kesadaran budaya. Ini sangat penting bagi universitas, karena universitas sebenarnya adalah wadah keberagaman. Kita menemukan ruang di mana keberagaman benar-benar hidup di perguruan tinggi. Dari lingkungan yang beragam tersebut, ketika kita bertemu orang dengan agama dan latar belakang etnis yang berbeda, kita seharusnya menghargainya sehingga hal itu tidak lagi menjadi tantangan, tetapi menjadi sesuatu yang memberi kita nilai-nilai keberagaman. Kedua adalah regulasi. Regulasi sangat penting karena tanpa itu kita tidak memiliki pedoman. Jika kita melihat Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016, dalam Pasal 10 disebutkan bahwa penyandang disabilitas memiliki hak atas pendidikan, dan pada huruf b disebutkan bahwa mereka memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi pendidik.

Nasihat apa yang akan Anda berikan kepada staf disabilitas lain yang ingin menekuni karier akademik?

Yang pertama adalah motivasi, karena dengan motivasi kita akan menemukan jalan. Motivasi adalah jalan menuju kesuksesan. Jika tidak ada motivasi, maka tidak ada jalan ke depan, apalagi kesuksesan yang kita harapkan untuk dicapai. Yang kedua adalah rasa percaya diri — jangan merasa minder, karena banyak teman-teman penyandang disabilitas yang telah meraih kesuksesan. Jadi dengan motivasi dan rasa percaya diri, mari kita bergerak bersama menuju kesuksesan.