Asrorul Mais, ST., S.Pd., M.Pd

Dapatkah Anda memperkenalkan diri dan membagikan peran Anda di universitas?

Nama saya Asrorul Mais. Saya berperan sebagai Wakil Rektor III yang membidangi Kerja Sama, Perencanaan, dan Hubungan Masyarakat di Universitas PGRI Argopuro Jember.

Dapatkah Anda menjelaskan keterbatasan Anda?

Saya mengalami disabilitas fisik. Dalam aktivitas sehari-hari, saya melakukan mobilitas dengan menggunakan kursi roda.

Apa yang menginspirasi Anda untuk menekuni jalur karier akademik?

Bagi saya, menjadi seorang pendidik adalah hal yang paling menyenangkan, karena kita dapat berbagi ilmu, berbagi pengalaman, dan tentu saja memberikan motivasi, khususnya kepada sesama penyandang disabilitas.

Dapatkah Anda menggambarkan pengalaman Anda bekerja di universitas sebagai penyandang disabilitas?

Bekerja di perguruan tinggi sebagai penyandang disabilitas memiliki tantangan yang luar biasa. Pertama adalah tantangan sistemik. Pada waktu itu, budaya penerimaan di lingkungan kampus belum sepenuhnya menerima penyandang disabilitas, terutama sebagai dosen. Tantangan berikutnya adalah seorang dosen harus terus aktif bekerja, dan hal itu menuntut saya untuk tetap dinamis dengan segala keterbatasan yang saya miliki. Namun di balik semua itu, perlahan tapi pasti, kampus akhirnya menerima budaya inklusi. Tantangan kedua adalah tugas-tugas yang melekat pada saya sebagai dosen, yang saya upayakan untuk saya jalani sebaik mungkin.

Dapatkah Anda berbagi momen positif ketika Anda benar-benar merasa didukung atau diikutsertakan?

Momen terpenting ketika saya benar-benar merasa didukung adalah saat saya dipercaya oleh rektor untuk menjabat sebagai Wakil Rektor bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan pada waktu itu. Saya merasa kepercayaan ini sangat berharga, sehingga momen tersebut harus benar-benar saya maksimalkan dan optimalkan. Pada saat yang sama, saya membuktikan kepada seluruh civitas akademika bahwa saya secara pribadi, sebagai penyandang disabilitas, mampu mengemban amanah tersebut dengan sebaik-baiknya. Kedua, saya menggunakan momentum ini untuk mendorong kampus kami menerima mahasiswa penyandang disabilitas dalam jumlah besar. Saat ini, kampus kami memiliki 320 mahasiswa penyandang disabilitas, dan jumlah tersebut merupakan yang terbesar di seluruh Indonesia.

Dapatkah Anda membagikan pencapaian terbesar Anda, dan mengapa?

Pencapaian terbesar saya yang pertama adalah ketika saya mengikuti short course di Australia. Di sanalah saya belajar bersama teman-teman dari berbagai negara tentang jejaring (networking) dan bagaimana membangun kegiatan pemberdayaan disabilitas. Dari pengalaman tersebut, saya merasa bahwa ilmu apa pun yang saya peroleh akan saya maksimalkan dan terapkan di dunia perguruan tinggi tempat saya bekerja.

Kekuatan atau strategi pribadi apa yang membantu Anda menghadapi tantangan dalam kehidupan kampus?

Saya selalu memiliki keinginan untuk menjadi pribadi yang bermanfaat, khususnya bagi sesama penyandang disabilitas. Saya juga ingin terus memberikan motivasi kepada teman-teman penyandang disabilitas bahwa disabilitas bukanlah akhir, melainkan awal bagi kita untuk terus bergerak maju, meraih kesuksesan, dan menjadi pribadi yang berguna bagi orang lain.

Siapa atau apa yang memainkan peran terbesar dalam mendukung perjalanan Anda?

Pertama adalah orang tua saya. Kedua adalah keluarga saya, baik istri maupun anak-anak. Ketiga adalah teman-teman di organisasi disabilitas. Dan keempat adalah pimpinan saya sebagai rektor, yang mendukung seluruh rencana dan gagasan saya, serta mendukung segala hal agar apa yang saya cita-citakan dapat terwujud.

Perubahan apa yang akan membuat universitas lebih aksesibel dan inklusif bagi penyandang disabilitas?

Menurut saya ada dua sisi yang menentukan apakah sebuah perguruan tinggi benar-benar dapat disebut aksesibel. Pertama adalah infrastruktur fisik — bagaimana kampus, dengan infrastruktur fisiknya, memiliki fasilitas yang aksesibel dan menyediakan akomodasi yang layak. Kedua adalah infrastruktur sosial — bagaimana seluruh komunitas kampus, mulai dari jajaran pimpinan tertinggi hingga rekan sejawat, memberikan dukungan penuh sehingga penyandang disabilitas merasa diterima dan diperlakukan setara. Di situlah prinsip kesetaraan terwujud.

Nasihat apa yang akan Anda berikan kepada staf penyandang disabilitas lain yang ingin menekuni karier akademik?

Untuk semua teman-teman penyandang disabilitas, di mana pun Anda berada — tetap semangat, raihlah tujuan Anda, dan tatap masa depan dengan optimisme. Apa pun tantangan atau kesulitan yang Anda hadapi, yakinlah bahwa Tuhan menyediakan solusi dalam hidup Anda. Percayalah bahwa Tuhan selalu bersama Anda, dan Anda akan senantiasa menjadi pribadi yang bermanfaat.