Apa yang Diungkapkan Buku Harian Dua Minggu tentang Menjadi Mahasiswa Penyandang Disabilitas di Inggris

Dari catatan harian tersebut, satu pesan sangat jelas: kehidupan universitas sehari-hari membutuhkan banyak usaha. Hal-hal sederhana seperti bangun dari tempat tidur, menghadiri kuliah, berkonsentrasi dalam rapat, atau membalas email seringkali membutuhkan perencanaan yang cermat. Bahkan pada hari-hari yang “baik”, mahasiswa menghadapi rasa sakit, kelelahan, kecemasan, kelebihan rangsangan sensorik, atau kurang tidur. Hari yang baik bukanlah tentang menjadi produktif, tetapi tentang berhasil hadir sama sekali.

Momen-momen kecil membuat perbedaan besar. Umpan balik yang baik dan jelas dari pembimbing, instruksi tertulis, kepercayaan untuk mengajar atau berkontribusi, dan perasaan didengarkan semuanya membantu mahasiswa merasa lebih percaya diri dan dihargai. Dukungan dari teman, pasangan, teman sekamar, dan rekan sebaya juga sangat penting. Momen-momen ini membantu mahasiswa merasa bahwa mereka diterima dan bahwa apa yang mereka lakukan itu penting.

Catatan harian tersebut juga menunjukkan betapa banyak hambatan yang dihadapi mahasiswa penyandang disabilitas, seringkali semuanya sekaligus. Hambatan fisik termasuk rasa sakit, penyakit, kelelahan, bangunan yang tidak dapat diakses, dan kurangnya tempat duduk yang nyaman. Hambatan emosional dan mental, seperti kecemasan, kelebihan rangsangan sensorik, kesulitan memulai tugas, dan takut akan umpan balik negatif, menambah tekanan ekstra. Selain itu, sistem yang kaku, proses dukungan yang lambat, dan tenggat waktu yang tidak fleksibel menyebabkan stres dan frustrasi yang berkelanjutan.

Perasaan diterima seringkali lebih bergantung pada orang daripada kebijakan. Mahasiswa merasa diterima ketika fleksibilitas ditawarkan tanpa penghakiman, komunikasi jelas, dan perbedaan dihormati. Mereka merasa dikucilkan ketika ruang-ruang tersebut kaku, tidak dapat diakses, atau tidak responsif—bahkan ketika hal ini tidak disengaja. Bekerja dari rumah terkadang membantu melindungi kesehatan, tetapi juga bisa terasa kesepian dan mempersulit perasaan terhubung dengan orang lain.

Catatan harian ini juga menantang stereotip umum tentang mahasiswa penyandang disabilitas. Para mahasiswa tersebut mengajar, membimbing, menyelenggarakan konferensi, melakukan penelitian, dan membangun keterampilan tingkat lanjut di bidang-bidang seperti AI dan analisis data. Banyak yang menemukan cara kreatif untuk bekerja dengan tubuh dan pikiran mereka, menggunakan alat dan penyesuaian yang membantu mereka melakukan pekerjaan terbaik mereka. Yang terpenting bukanlah mengubah mahasiswa, tetapi mengubah lingkungan di sekitar mereka.

Secara keseluruhan, pengalaman hidup ini menunjukkan bahwa disabilitas di pendidikan tinggi bukan hanya tentang akses atau penyesuaian. Ini tentang energi, martabat, dan perasaan diterima. Ketika universitas mengurangi hambatan, menawarkan fleksibilitas, dan menunjukkan kepedulian, mereka menciptakan lingkungan belajar yang lebih baik untuk semua orang. Inklusi tidak menurunkan standar — melainkan memungkinkan partisipasi.

Read More