Acara di Indonesia

Pada Februari 2026, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS), bekerja sama dengan Cardiff University dan Edinburgh Napier University, menyelenggarakan acara inklusi disabilitas selama dua hari yang bertujuan untuk mentransformasi pendidikan tinggi melalui peningkatan kesadaran, kolaborasi, dan tindakan. Lokakarya-lokakarya tersebut merupakan bagian dari proyek SAHABAT-ID, yang berupaya memberdayakan mahasiswa dan staf penyandang disabilitas serta menumbuhkan lingkungan kampus yang lebih inklusif.

Hari pertama dihadiri oleh 62 peserta, termasuk pimpinan universitas senior, direktur program, perwakilan dari 11 universitas Indonesia, organisasi nirlaba, dan tamu internasional. Para peserta mendalami temuan penelitian tentang inklusi disabilitas, model sosial disabilitas, bias tak sadar, dan Kerangka Kerja BOND yang baru dikembangkan. Acara ini menampilkan panel ahli yang terdiri dari perwakilan Komisi Nasional Disabilitas Republik Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Brawijaya, dan Universitas PGRI Argopuro Jember.

Hari kedua difokuskan pada mahasiswa dan dihadiri oleh 83 peserta, termasuk 65 mahasiswa UKWMS dari sepuluh program studi berbeda, mahasiswa dari sembilan universitas di Indonesia, para aktivis disabilitas, serta penerjemah bahasa isyarat.

Summer Xia, Direktur British Council Indonesia dan Direktur untuk Asia Tenggara, menyampaikan sambutan pembuka pada lokakarya mahasiswa tersebut, dengan menekankan pentingnya kerja sama internasional dalam memajukan inklusi disabilitas dan menciptakan lingkungan pendidikan tinggi yang lebih adil

Melalui diskusi panel, kegiatan pengembangan kampanye, dan lokakarya kolaboratif, para mahasiswa bekerja sama untuk membayangkan seperti apa kampus yang benar-benar inklusif. Tanggapan yang diterima sangat positif. Evaluasi mahasiswa menunjukkan bahwa 96% merasa puas dengan lokakarya tersebut dan melaporkan telah mempelajari hal baru tentang inklusi disabilitas. Yang penting, 96% mengatakan lokakarya tersebut mengubah sikap mereka terhadap urgensi dan pentingnya inklusi disabilitas, sementara 92% mengatakan mereka lebih cenderung mempromosikan inklusi disabilitas di universitas masing-masing. Secara konkret, 15 mahasiswa mendaftar sebagai sukarelawan di Unit Dukungan Disabilitas sebagai hasil dari lokakarya tersebut. Tanggapan ini menunjukkan kekuatan dari menyatukan mahasiswa, staf, pemimpin, dan para pendukung penyandang disabilitas untuk menciptakan perubahan yang berarti.

Lokakarya tersebut lebih dari sekadar kesempatan belajar. Lokakarya tersebut merupakan langkah menuju pembangunan komunitas universitas tempat mahasiswa dan staf penyandang disabilitas dapat benar-benar merasa memiliki dan berkembang.

Read More