Lokakarya kami ‘Memberdayakan Inklusi: Disabilitas di Pendidikan Tinggi dan Menciptakan Masa Depan Bersama’

Apa yang terjadi pada hari itu?

Kami memulai dengan pidato pembukaan dari pemimpin proyek kami, Dr. Zoe Lee. Zoe memperkenalkan komitmen bersama terhadap inklusi disabilitas dan pentingnya penelitian kolaboratif yang sangat berlandaskan pada suara dan pengalaman hidup mahasiswa dan staf penyandang disabilitas.

Setelah pidato pembukaan, Profesor Debbie Foster (Cardiff Business School dan Gugus Tugas Hak Disabilitas Wales) melanjutkan dengan merefleksikan keterlibatan dengan pemerintah daerah dan kebijakan hak disabilitas di Wales. Beliau menyoroti pentingnya kolaboratif dengan penyandang disabilitas, menunjukkan bagaimana perubahan yang bermakna terjadi ketika pengalaman hidup membentuk kebijakan daripada ditambahkan sebagai pertimbangan belakangan.

Dr. Lanny Hartanti dan Wahyudi Wibowo (UKWMS, Indonesia) berbagi wawasan dari konteks pendidikan tinggi Indonesia. Mereka berbicara tentang membangun inklusi disabilitas dari bawah melalui komitmen kepemimpinan, peran unit pendukung disabilitas, pelatihan staf, dan perubahan budaya sambil mengatasi tantangan struktural dan kebijakan.

D. Zoe Lee (Cardiff) dan Profesor Nathalia Tjandra (Edinburgh Napier) mempresentasikan temuan awal dari proyek SAHABAT ID. Pembicaraan mereka berfokus pada interseksionalitas, menyoroti bagaimana disabilitas, gender, dan budaya membentuk pengalaman sehari-hari di pendidikan tinggi, dan mengapa fokus pada aksesibilitas fisik saja tidak cukup. Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk memahami disabilitas tersembunyi dalam konteks Pendidikan Tinggi.

Julie Budgen berbagi peran jaringan disabilitas staf dalam menciptakan ruang yang lebih aman, mengurangi stigma, dan memengaruhi praktik institusional. Refleksinya menekankan bagaimana dukungan dan visibilitas rekan sejawat dapat mendorong perubahan dari dalam universitas.

Read More