Bisakah Anda memperkenalkan diri dan menjelaskan peran Anda di universitas?
Halo semuanya, nama saya Wuri Handayani. Saya merupakan dosen di Departemen Akuntansi, Fakultas Ekonomika & Bisnis, Universitas Gadjah Mada sejak tahun 2018. Sejak tahun 2024, saya juga menjabat sebagai Ketua Unit Layanan Disabilitas Universitas Gadjah Mada.
Bisakah Anda menjelaskan keterbatasan yang Anda miliki?
Saya menggunakan kursi roda sejak tahun 1993 akibat kecelakaan saat mendaki gunung ketika saya masih mahasiswa tingkat dua. Sebagai pengguna kursi roda, saya memiliki keterbatasan dalam hal mobilitas. Di Indonesia, aksesibilitas masih menjadi tantangan besar karena banyak tempat umum dan fasilitas yang belum sepenuhnya ramah bagi penyandang disabilitas.
Apa yang menginspirasi Anda untuk menempuh karier akademik?
Saya terinspirasi menjadi dosen berdasarkan pengalaman saya saat menjadi mahasiswa. Rekan-rekan saya sering meminta bantuan untuk memahami mata kuliah dan menyelesaikan masalah akademik. Saya menyadari bahwa bekerja di bidang akademik menuntut kita untuk terus belajar dan memperbarui pengetahuan. Sejak masa sarjana, saya memang sudah bercita-cita menjadi dosen karena saya menghargai pendidikan dan pertumbuhan intelektual.
Bisakah Anda menceritakan pengalaman Anda bekerja di universitas sebagai penyandang disabilitas?
Saya memulai karier akademik pada tahun 2015 di Universiti Malaysia Perlis. Dalam hal penyampaian materi, tidak ada perbedaan dengan pengalaman saya saat belajar di Inggris dan Malaysia. Namun, infrastruktur tetap menjadi hambatan utama. Beberapa gedung belum sepenuhnya aksesibel sehingga saya memerlukan bantuan untuk masuk ke ruang kelas. Misalnya, papan tulis sering dipasang terlalu tinggi sehingga sulit saya jangkau. Untuk mengatasinya, saya menggunakan teknologi yang dapat menampilkan materi dari iPad ke laptop. Saat bergabung dengan Universitas Gadjah Mada, saya membawa strategi adaptif tersebut. Meski demikian, mobilitas antar gedung masih menjadi tantangan karena aksesibilitas yang belum optimal.
Dapatkah Anda berbagi momen positif ketika Anda merasa benar-benar didukung atau diikutsertakan?
Ketika saya bergabung dengan Universitas Gadjah Mada pada tahun 2018, saya merasa sangat didukung. Dalam proses rekrutmen, saya tidak secara khusus menyebutkan kondisi disabilitas saya, tetapi saya tetap difasilitasi dengan baik. Setelah diterima sebagai dosen, rekan-rekan menanyakan dukungan apa yang saya butuhkan untuk beradaptasi dengan lingkungan. Saat itu, fakultas belum memiliki toilet aksesibel, sehingga saya mengusulkan penyediaannya. Saat ini, toilet aksesibel telah tersedia di setiap lantai gedung fakultas. Hal ini menunjukkan adanya dukungan institusional yang nyata.
Apa pencapaian terbesar Anda dan mengapa?
Dalam bidang akademik, pencapaian terbesar saya adalah meraih gelar Ph.D. Gelar doktor telah memperluas kapasitas saya dan memperkuat suara advokasi saya. Saya percaya pada pernyataan Nelson Mandela bahwa “Pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia.” Ketika saya masih memegang gelar sarjana dan magister, suara advokasi saya sering kurang diperhitungkan. Namun sebagai pemegang gelar doktor, pandangan saya lebih dihargai. Selain itu, pencapaian besar lainnya adalah berkontribusi dalam pendirian Unit Layanan Disabilitas di Universitas Gadjah Mada.
Kekuatan atau strategi pribadi apa yang membantu Anda menghadapi tantangan di lingkungan universitas?
Saya berkomitmen untuk menunjukkan bahwa penyandang disabilitas dapat berprestasi jika diberi kesempatan. Saya berusaha menantang stigma masyarakat dengan terus meningkatkan pengetahuan dan kompetensi saya. Saya melihat ini sebagai tanggung jawab untuk menjadi role model dan mengadvokasi kesempatan yang setara bagi penyandang disabilitas di Indonesia. Komitmen terhadap advokasi dan perubahan positif inilah yang menjadi kekuatan utama saya.
Siapa atau apa yang berperan paling besar dalam mendukung perjalanan Anda?
Sistem pendukung terbesar saya adalah suami saya, yang selalu memberikan dorongan dan mengingatkan saya untuk memberikan dampak positif bagi masyarakat. Saya juga banyak belajar dari mahasiswa penyandang disabilitas dan komunitas disabilitas di Indonesia. Selain itu, saya berterima kasih atas dukungan institusional dari Universitas Gadjah Mada yang tidak hanya mendukung saya secara pribadi, tetapi juga komunitas disabilitas secara lebih luas di kampus.
Perubahan apa yang akan membuat universitas lebih aksesibel dan inklusif bagi penyandang disabilitas?
Hambatan utama yang dihadapi penyandang disabilitas sering kali bukan hanya infrastruktur, melainkan sikap. Meskipun ramp dan guiding block penting, inklusivitas harus dimulai dari perubahan pola pikir. Penyandang disabilitas bukan objek belas kasihan, melainkan individu dengan hak yang sama. Universitas harus menghormati, melindungi, dan memenuhi hak asasi penyandang disabilitas. Budaya inklusif harus diterapkan dari pimpinan tertinggi hingga seluruh sivitas akademika, tidak hanya untuk mahasiswa tetapi juga untuk dosen dan tenaga kependidikan penyandang disabilitas.
Apa saran Anda bagi staf penyandang disabilitas yang ingin meniti karier akademik?
Saya mendorong penyandang disabilitas untuk menempuh pendidikan setinggi mungkin, memperluas wawasan, meningkatkan kompetensi, dan memperluas jaringan profesional. Bagi yang sudah berada di dunia akademik, teruslah berusaha mencapai jenjang yang lebih tinggi. Ketika kita memiliki keterbatasan, kita perlu berusaha lebih keras untuk meraih tingkat kehidupan dan karier akademik yang lebih tinggi.