Bisakah Anda memperkenalkan diri dan menyampaikan bidang studi Anda di universitas?
Nama saya Abdul Majid, seorang penyandang disabilitas sensorik netra. Saat ini saya sedang menempuh studi Magister Kebijakan Publik di Universitas Airlangga, Surabaya.
Bisakah Anda menjelaskan keterbatasan yang Anda miliki?
Sebagai penyandang disabilitas sensorik netra, saya memiliki keterbatasan dalam mobilitas. Untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain, saya menggunakan tongkat putih sebagai alat bantu. Ketika mengakses tempat baru yang jauh atau memiliki tingkat kompleksitas tinggi, saya biasanya perlu didampingi oleh pendamping. Selain hambatan mobilitas, saya juga memiliki keterbatasan visual. Untuk mengakses informasi dan berkomunikasi di era digital saat ini, saya menggunakan gawai yang dilengkapi dengan aplikasi pembaca layar untuk menjelajah internet, menggunakan media sosial, mengakses YouTube, dan mencari informasi.
Apa yang menginspirasi Anda memilih bidang studi ini?
Saya memiliki minat yang kuat dalam bidang advokasi. Saat menempuh studi sarjana, saya aktif sebagai aktivis mahasiswa. Setelah menjadi penyandang disabilitas, saya bertemu dengan banyak teman yang membutuhkan pendampingan dan advokasi dalam bidang pendidikan, ketenagakerjaan, perundungan, dan diskriminasi. Hal ini memotivasi saya untuk memberikan layanan advokasi, termasuk advokasi kebijakan terkait regulasi dan pengarusutamaan disabilitas, advokasi layanan, serta advokasi litigasi bagi penyandang disabilitas yang menghadapi persoalan hukum seperti kekerasan seksual, kekerasan fisik, dan diskriminasi. Saya juga tertarik pada riset dan inovasi, khususnya dalam memastikan bahwa proses perumusan kebijakan didasarkan pada penelitian dari komunitas disabilitas di tingkat akar rumput.
Dapatkah Anda menceritakan pengalaman Anda berkuliah sebagai penyandang disabilitas?
Sebagai mahasiswa tunanetra di Universitas Airlangga, saya diperlakukan setara dengan mahasiswa lainnya. Akomodasi yang layak disediakan bagi mahasiswa penyandang disabilitas. Di universitas terdapat program bernama AIL (Airlangga Inclusive Learning) yang melibatkan perwakilan kampus, dosen, dan relawan mahasiswa untuk mendukung pembelajaran inklusif. Selama perkuliahan, saya menghadapi hambatan yang relatif minimal karena materi diberikan dalam format yang aksesibel seperti PDF, MS Word, dan PowerPoint yang kompatibel dengan pembaca layar.
Dapatkah Anda berbagi momen positif ketika Anda merasa benar-benar didukung atau diikutsertakan?
Ketika ekosistem bersifat suportif dan lingkungan mengakui keberadaan kami sebagai penyandang disabilitas, hal tersebut menciptakan ruang publik yang inklusif. Suasana yang mendukung meningkatkan motivasi dan memungkinkan penyandang disabilitas untuk mencapai tujuan mereka. Sebagai contoh, dengan dukungan yang kuat dalam perjalanan pendidikan saya, saya memperoleh beasiswa ke luar negeri, termasuk dari pemerintah Australia dan dari Asian University Network.
Apa pencapaian terbesar Anda dan mengapa?
Salah satu pencapaian terbesar saya di luar bidang akademik adalah keberanian untuk secara terbuka menyatakan diri sebagai penyandang disabilitas. Hal ini membutuhkan kekuatan, tekad, dan kesiapan menerima segala konsekuensi. Setelah menyatakan identitas tersebut, saya mampu menentukan arah dan tujuan hidup saya, khususnya dalam bidang advokasi. Saya menetapkan target untuk membantu penyandang disabilitas yang menghadapi persoalan hukum, diskriminasi di tempat kerja, keterbatasan akses pelatihan, bantuan permodalan, bantuan sosial, serta dukungan mobilitas yang seharusnya disediakan oleh negara.
Kekuatan atau strategi pribadi apa yang membantu Anda menghadapi tantangan dalam kehidupan kampus?
Motivasi diri dan ketekunan sangatlah penting. Tanpa tekad dan rasa percaya diri yang kuat, akan sulit untuk terus melangkah. Menjaga semangat juang dan kepercayaan diri menjadi kunci dalam membantu saya menyelesaikan studi di bidang kebijakan publik.
Siapa atau apa yang paling berperan dalam mendukung perjalanan Anda?
Keluarga saya—terutama orang tua dan saudara—menjadi fondasi utama sistem pendukung saya. Selain itu, teman-teman di komunitas serta perwakilan organisasi disabilitas juga berkontribusi dalam menciptakan ekosistem yang suportif sehingga saya dapat mengejar tujuan dan cita-cita karier saya.
Perubahan apa yang dapat membuat universitas lebih aksesibel dan inklusif bagi penyandang disabilitas?
Perubahan harus dimulai dari sumber daya manusia. Pimpinan universitas, dekan, tenaga pendidik, dan mahasiswa perlu memiliki pola pikir inklusif serta memahami pengarusutamaan disabilitas. Mereka harus memahami prinsip hak asasi manusia dan memastikan mahasiswa penyandang disabilitas dilindungi oleh kerangka hukum yang kuat. Dengan demikian, akan tercipta program yang inklusif, pusat pembelajaran inklusif, serta fasilitas yang aksesibel. Ekosistem yang suportif dan inklusif harus hadir di setiap kampus.
Apa saran Anda bagi mahasiswa penyandang disabilitas yang akan memasuki pendidikan tinggi?
Selain memiliki motivasi dan tekad yang kuat, mahasiswa penyandang disabilitas perlu memiliki tujuan yang jelas mengenai keahlian yang ingin dikembangkan. Sebagai contoh, saya memilih untuk mendalami kebijakan publik yang inklusif guna mendukung pengarusutamaan disabilitas. Oleh karena itu, saya terus mempelajari kebijakan publik, inklusivitas, dan isu-isu disabilitas. Belajar dari praktik terbaik internasional dan menyesuaikannya dengan konteks Indonesia juga sangat penting.