Bisakah Anda memperkenalkan diri dan menyampaikan bidang studi Anda di universitas?
Nama saya Fira Fitria. Saya adalah penyandang cerebral palsy dan saat ini sedang menempuh studi doktoral pada Program Pascasarjana Pengembangan Sumber Daya Manusia di Universitas Airlangga. Saya merupakan penerima beasiswa LPDP Batch 1 Tahun 2025.
Bisakah Anda menjelaskan keterbatasan yang Anda miliki?
Saya adalah penyandang cerebral palsy, yaitu gangguan pada saraf motorik atau alat gerak yang mengakibatkan kelainan fungsi otak. Saya menggunakan walker saat berada di rumah, dan ketika di luar rumah saya menggunakan kursi roda. Saya mengalami cerebral palsy tipe spastik akibat kelahiran prematur—saya lahir pada usia kandungan enam bulan dengan berat badan hanya 1,2 kg. Saya telah menjalani fisioterapi sepanjang hidup saya.
Apa yang menginspirasi Anda memilih bidang studi ini?
Pengembangan Sumber Daya Manusia merupakan indikator penting kemajuan suatu bangsa dan sangat berkaitan dengan isu disabilitas. Penyandang disabilitas juga harus memiliki sumber daya manusia yang berkualitas agar dapat menjadi agen perubahan dan berkontribusi dalam mewujudkan kesetaraan hak, khususnya di Indonesia.
Dapatkah Anda menceritakan pengalaman Anda berkuliah sebagai penyandang disabilitas?
Perjalanan akademik saya diwarnai dengan suka dan duka. Saat menempuh studi Sarjana, saya belajar di sebuah universitas swasta di Kabupaten Tuban. Saya adalah satu-satunya mahasiswa penyandang disabilitas di sana, namun saya benar-benar merasa diterima dan menjadi bagian dari komunitas akademik yang beragam, meskipun kampus tersebut memiliki latar belakang Islam yang kuat. Ketika melanjutkan studi Magister di salah satu universitas besar dan bergengsi, suasananya berbeda dan saya menghadapi dinamika serta pengalaman baru.
Dapatkah Anda berbagi momen positif ketika Anda merasa benar-benar didukung atau diikutsertakan?
Dalam konteks pendidikan inklusif, saya berharap dapat menginisiasi Program Pendampingan Pendidikan Inklusif yang menyasar taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, hingga perguruan tinggi. Saya juga ingin membangun jejaring antara orang tua anak berkebutuhan khusus atau penyandang disabilitas dengan guru, dosen, dan tenaga kependidikan untuk menjembatani kebutuhan serta aspirasi mereka. Sekecil apa pun bantuan yang diberikan, selama bermakna dan berdampak, hal tersebut tetaplah bernilai.
Apa pencapaian terbesar Anda dan mengapa?
Salah satu pencapaian terbesar saya adalah mencapai jenjang pendidikan doktoral yang saat ini sedang saya jalani. Terpilih sebagai penerima beasiswa LPDP melalui jalur afirmasi disabilitas juga merupakan pencapaian yang luar biasa bagi saya. Lolos seleksi dan memperoleh beasiswa tersebut, terutama sebagai perempuan dengan cerebral palsy, menjadi tonggak penting mengingat berbagai perjuangan dan tantangan unik yang saya hadapi.
Kekuatan atau strategi pribadi apa yang membantu Anda menghadapi tantangan dalam kehidupan kampus?
Salah satu strategi terpenting adalah penerimaan diri. Kita harus berdamai dengan diri sendiri dan menerima siapa diri kita. Proses ini memungkinkan kita memancarkan energi positif, mengaktualisasikan diri, serta berkontribusi secara optimal, terutama dalam peran sebagai mahasiswa.
Siapa atau apa yang paling berperan dalam mendukung perjalanan Anda?
Di atas segalanya, saya meyakini bahwa semua terjadi atas izin dan berkah Tuhan. Saya sangat bersyukur atas bimbingan-Nya. Almarhum orang tua saya memiliki peran yang sangat besar dalam membimbing, mendidik, dan merawat saya hingga membentuk saya seperti sekarang. Saya juga berterima kasih kepada keluarga besar, lingkar pertemanan yang suportif dalam komunitas disabilitas, serta seseorang yang sangat saya hormati, Bapak Eka Prastama Widiyanta, yang turut berkontribusi dalam pertumbuhan dan perkembangan saya.
Perubahan apa yang dapat membuat universitas lebih aksesibel dan inklusif bagi penyandang disabilitas?
Perubahan pertama yang diperlukan adalah transformasi pola pikir. Kita harus membangun lingkungan yang lebih inklusif melalui peningkatan kesadaran, sosialisasi, serta kontribusi yang konsisten—baik kecil maupun besar. Perubahan kedua adalah peningkatan infrastruktur, tidak hanya bangunan fisik tetapi juga sistem dan kebijakan nonfisik. Namun, perubahan pola pikir tetap menjadi fondasi terpenting bagi terwujudnya inklusivitas yang sejati.
Apa saran Anda bagi mahasiswa penyandang disabilitas yang akan memasuki pendidikan tinggi?
Menjadi penyandang disabilitas bukanlah pilihan; itu adalah bagian dari ketetapan Tuhan. Namun, hal tersebut bukanlah akhir dari segalanya. Justru, itu bisa menjadi awal pertumbuhan dan semangat baru. Pendidikan tinggi adalah salah satu cara untuk meningkatkan kapasitas diri dan membuktikan bahwa penyandang disabilitas dapat terus berkembang serta memberikan kontribusi yang bermakna.