Stella Rosita Anggraini, S.Psi

Bisakah Anda memperkenalkan diri dan menyampaikan bidang studi Anda di universitas?

Nama saya Stella Rosita Anggraini, dari Universitas Darul Ulum Jombang, Fakultas Psikologi, lulusan tahun 2024.

Bisakah Anda menjelaskan keterbatasan yang Anda miliki?

Saya adalah penyandang disabilitas fisik (daksa) dan menggunakan kursi roda sebagai alat bantu. Saya memiliki kondisi yang disebut penyakit tulang rapuh yang menyerang saraf pada tulang, sehingga menyebabkan kerapuhan pada anggota gerak saya. Jika tubuh saya mengalami benturan, tulang saya sangat mudah patah.

Apa yang menginspirasi Anda memilih bidang studi ini?

Inspirasi saya adalah mempelajari ilmu psikologi. Di dalamnya terdapat pembelajaran tentang ilmu mengenai manusia yang dapat saya terapkan dalam kehidupan sehari-hari untuk lebih mengenal diri sendiri, dan nantinya juga bermanfaat bagi teman-teman di luar sana, termasuk teman-teman penyandang disabilitas.

Dapatkah Anda menceritakan pengalaman Anda berkuliah sebagai penyandang disabilitas?

Pengalaman saya belajar di kampus, saya merupakan salah satu mahasiswa penyandang disabilitas di angkatan 2024. Banyak tantangan yang saya hadapi sebagai penyandang disabilitas, mulai dari mengenalkan isu disabilitas kepada civitas akademika, bagaimana berinteraksi dengan teman-teman, hingga bagaimana mahasiswa disabilitas mulai menyuarakan hak-haknya sebagai mahasiswa di perguruan tinggi. Hal tersebut tidak mudah, tetapi saya merasa itu adalah perjalanan yang saya mulai dari proses advokasi di kampus saya sendiri.

Dapatkah Anda berbagi momen positif ketika Anda merasa benar-benar didukung atau diikutsertakan?

Pengalaman yang berharga bagi saya, khususnya di kota Jombang, adalah membangun komunitas bernama Volunteer Class di Factory Jombang. Inisiatif ini mendorong teman-teman muda nondisabilitas untuk mengenal teman-teman penyandang disabilitas di lingkungan komunitas. Melalui kelas relawan tersebut, masyarakat belajar bagaimana berinteraksi dengan penyandang disabilitas dan memahami budaya disabilitas. Pengalaman ini sangat bermakna, meskipun tidak semua anak muda nondisabilitas tertarik. Saya juga menjadi bagian dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Psikologi, di mana saya mengampanyekan kesadaran disabilitas di lingkungan kampus. Perjalanannya tidak mudah, terutama dalam mendorong partisipasi teman-teman nondisabilitas. Semua dilakukan secara sukarela tanpa keuntungan materi, tetapi bertujuan membangun budaya komunitas yang lebih inklusif di kota Jombang.

Apa pencapaian terbesar Anda dan mengapa?

Pencapaian terbesar saya adalah mampu menempuh pendidikan tinggi sebagai mahasiswa penyandang disabilitas, yang tentu bukan hal mudah. Banyak teman penyandang disabilitas bahkan tidak memiliki kesempatan untuk berkuliah. Saya ingin terus belajar dan mengimplementasikan ilmu yang saya peroleh untuk teman-teman penyandang disabilitas. Secara khusus, saya ingin memperjuangkan hak-hak penyandang disabilitas di mana pun saya berada.

Kekuatan atau strategi pribadi apa yang membantu Anda menghadapi tantangan dalam kehidupan kampus?

Kekuatan pribadi saya muncul ketika saya masuk ke Universitas Darul Ulum, di mana banyak aturan yang belum secara khusus mendukung mahasiswa penyandang disabilitas. Saat itulah saya mulai menyuarakan hak-hak saya sebagai mahasiswa disabilitas. Meskipun belum sepenuhnya mengubah sistem, setidaknya hal tersebut membantu mengubah perspektif masyarakat dan pandangan kampus terhadap disabilitas.

Siapa atau apa yang paling berperan dalam mendukung perjalanan Anda?

Yang paling mendukung perjalanan saya di bangku kuliah adalah orang tua, keluarga besar dan kerabat, serta teman-teman aktivis dalam jaringan aktivis disabilitas. Dukungan mereka memperkuat motivasi saya ketika menghadapi diskriminasi yang dialami teman-teman penyandang disabilitas di lingkungan pendidikan dan perguruan tinggi.

Perubahan apa yang dapat membuat universitas lebih aksesibel dan inklusif bagi penyandang disabilitas?

Saya merasa perubahan yang spesifik di kampus saya belum sepenuhnya terjadi. Masih belum tersedia gedung yang aksesibel, dan regulasi belum dirancang untuk mengakomodasi mahasiswa penyandang disabilitas. Namun, setidaknya saya telah berkontribusi dalam mengubah perspektif masyarakat terhadap penyandang disabilitas serta menunjukkan bagaimana memberikan akomodasi yang layak sesuai kebutuhan mahasiswa disabilitas di kampus.

Apa saran Anda bagi mahasiswa penyandang disabilitas yang akan memasuki pendidikan tinggi?

Saya berharap penyandang disabilitas yang akan memasuki perguruan tinggi tetap memiliki motivasi dan mempersiapkan kesiapan mental yang kuat dalam menjalani perkuliahan. Tidak mudah bagi mahasiswa disabilitas menghadapi berbagai tantangan, mulai dari persoalan aksesibilitas, perbedaan regulasi kampus, hingga menyuarakan hak-hak sebagai penyandang disabilitas di pendidikan tinggi.