Dapatkah Anda memperkenalkan diri dan membagikan bidang studi Anda di universitas?
Nama saya Imori Rebecca. Bidang studi saya adalah psikologi. Saya menyelesaikan gelar Sarjana di UWM, dan gelar Magister saya adalah magister profesi di Universitas 17 Agustus Surabaya.
Dapatkah Anda menjelaskan keterbatasan Anda?
Saya lahir prematur — pada usia kandungan tujuh bulan. Karena itu, saya mengalami cerebral palsy spastik yang memengaruhi kaki saya. Naik tangga tanpa pegangan tangan cukup sulit bagi saya, tetapi dengan pegangan tangan saya dapat melakukannya.
Apa yang menginspirasi Anda untuk menekuni bidang studi ini?
Saya memilih psikologi karena saya percaya setiap aspek kehidupan membutuhkan dimensi psikologis. Psikologi tidak akan pernah hilang, karena di setiap tahap kehidupan — baik ketika menjadi seorang ibu maupun dosen — kita selalu berhubungan dengan manusia lain, dan di mana pun ada manusia, di situ selalu ada psikologi.
Dapatkah Anda menggambarkan pengalaman Anda belajar di universitas sebagai penyandang disabilitas?
Dalam organisasi kemahasiswaan, saya bergabung dengan Pers Mahasiswa dan menjabat sebagai bendahara umum. Saya juga menjadi panitia lepas di Badan Eksekutif Mahasiswa dan Lembaga Pengabdian Masyarakat, serta menjadi staf mahasiswa di Universitas Widya Mandala Surabaya.
Dapatkah Anda berbagi momen positif ketika Anda benar-benar merasa didukung atau diikutsertakan?
Saya merasa bahwa UWM sangat terasa seperti keluarga — tidak ada diskriminasi. Meskipun saya memiliki keterbatasan fisik, saya tetap dapat berpartisipasi penuh dalam kegiatan organisasi mahasiswa. Saya dipilih sebagai ketua kelompok untuk tugas, pendapat saya didengarkan, dan saya terpilih sebagai staf mahasiswa. Saya melihat ini sebagai bukti nyata bahwa saya didukung. Saya juga kemudian bekerja sebagai profesional HR, hingga naik menjadi manajer HR di tiga perusahaan. Bahkan hingga sekarang, hubungan saya dengan universitas dalam program magister di Universitas 17 Agustus tetap terjalin dengan baik, dan saya terpilih sebagai supervisor eksternal untuk profesi psikologi.
Dapatkah Anda membagikan pencapaian terbesar Anda dan mengapa?
Saya pikir pencapaian terbesar saya secara umum adalah bahwa meskipun memiliki keterbatasan fisik, saya dapat menempuh pendidikan hingga jenjang magister. Hal ini tidak mungkin terjadi tanpa dukungan orang-orang terdekat saya — orang tua, orang tua rohani, dan saudara-saudara saya. Selain di bidang pendidikan, saya mampu terus bekerja di bidang Human Resources dan naik ke tingkat manajerial di tiga perusahaan. Saya juga menjadi asesor untuk beberapa kementerian di Indonesia. Yang membuat hal ini bermakna bagi saya adalah kemampuan saya dinilai setara dengan orang-orang tanpa disabilitas.
Kekuatan atau strategi pribadi apa yang membantu Anda menghadapi tantangan dalam kehidupan kampus?
Kita harus percaya diri — pertama dengan bersandar kepada Tuhan, memiliki integritas, percaya diri, dan aktif. Jika kita tidak berani dan tidak aktif, kita tidak bisa membangun citra diri. Namun ketika kita berani untuk aktif dan bersosialisasi, orang lain dapat melihat kualitas kita.
Siapa atau apa yang memainkan peran terbesar dalam mendukung perjalanan Anda?
Peran terbesar dalam hidup saya dimainkan oleh orang tua, orang tua rohani, saudara-saudara — baik secara jasmani maupun rohani — serta sahabat-sahabat terdekat saya. Mereka semua mendukung saya dan membentuk saya menjadi pribadi yang lebih percaya diri, lebih bersandar kepada Tuhan, serta mampu lebih aktif dan beradaptasi dengan lingkungan meskipun memiliki keterbatasan.
Perubahan apa yang akan membuat universitas lebih aksesibel dan inklusif bagi penyandang disabilitas?
Terkait aksesibilitas, karena disabilitas saya berkaitan dengan tangga, saya berharap lebih banyak gedung memiliki pegangan tangan. Di Indonesia, masih banyak bangunan yang sulit diakses — dengan perbedaan tinggi lantai dan tanpa akomodasi — yang sangat menyulitkan penyandang disabilitas, khususnya pengguna kursi roda. Bahkan permukaan tanah yang tidak rata dan berbatu pun menyulitkan pengguna kursi roda serta orang seperti saya yang mengalami kesulitan berjalan.
Nasihat apa yang akan Anda berikan kepada mahasiswa penyandang disabilitas yang memasuki pendidikan tinggi?
Meskipun Anda memiliki kekurangan, jangan pernah merasa rendah diri. Anda harus percaya diri dan yakin bahwa kemampuan sejati Anda tidak kalah dengan orang tanpa disabilitas — selama Anda mau mengembangkan kemampuan tersebut. Setiap manusia memiliki potensi dalam dirinya. Jika Anda dilahirkan ke dunia ini, Tuhan pasti memiliki tujuan untuk hidup Anda. Jadi tetap semangat, jangan pernah menyerah, dan selalu percaya diri.